top of page

Mengapa Perhitungan HPP di Industri Manufaktur Sering Melenceng dan Bagaimana Odoo Membantu Mengatasinya

  • 6 hours ago
  • 4 min read
ilustrasi produksi manufaktur dan module odoo

Sebuah pabrik bisa terlihat sibuk setiap hari. Mesin berjalan, order produksi terus masuk, dan pengiriman produk berlangsung normal. Dari sisi operasional, aktivitas terlihat stabil dan terukur.


Namun ketika laporan keuangan ditutup di akhir bulan, sering muncul satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab: mengapa profit tidak bertumbuh seiring dengan penjualan?

Situasi seperti ini cukup sering muncul dalam operasi manufaktur. Permintaan pasar tidak selalu menjadi masalah utama. Produksi tetap berjalan dan produk tetap terjual.

Yang sering menjadi blind spot justru berada pada cara perusahaan menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP).


Dalam praktik sehari-hari, perhitungan biaya produk sering berhenti pada dua komponen utama: bahan baku dan tenaga kerja langsung. Pendekatan ini memang membuat perhitungan terlihat sederhana, tetapi jarang benar-benar mencerminkan bagaimana biaya terbentuk di proses produksi.


Satu produk manufaktur biasanya melewati beberapa tahap proses, mulai dari pemotongan material, machining, perakitan, hingga proses finishing. Setiap tahap tersebut melibatkan mesin, operator, waktu proses, dan konsumsi energi yang berbeda.

Biaya seperti penggunaan mesin produksi, waktu setup sebelum proses berjalan, konsumsi listrik selama produksi, hingga biaya maintenance equipment sering tercatat sebagai biaya operasional umum. Mereka tidak selalu dialokasikan langsung ke produk yang dihasilkan.


Akibatnya, HPP yang digunakan untuk menentukan harga jual sering kali lebih rendah dari biaya produksi yang sebenarnya terjadi di lantai produksi.

Dalam jangka pendek kondisi ini mungkin tidak terasa signifikan. Namun dalam jangka waktu tertentu, perusahaan mulai merasakan bahwa margin keuntungan tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan.


Ketika Aktivitas Produksi Tidak Terhubung dengan Struktur Costing


Jika persoalan ini ditelusuri lebih jauh, biasanya bukan berarti perusahaan tidak memiliki data sama sekali.

Data produksi biasanya tersedia di shop floor. Pergerakan material tercatat di sistem inventory atau gudang. Biaya operasional tercatat di laporan keuangan.

Masalahnya bukan pada keberadaan data, tetapi pada cara data tersebut terhubung satu sama lain.


Tanpa sistem yang mengaitkan aktivitas produksi dengan struktur costing, perusahaan hanya melihat potongan informasi yang terpisah.

Akibatnya, hubungan antara proses produksi dan biaya yang dihasilkan oleh proses tersebut tidak selalu terlihat dengan jelas.

Di titik ini, beberapa pertanyaan operasional mulai sulit dijawab secara akurat:


  • produk mana yang sebenarnya memberikan margin terbaik

  • proses produksi mana yang paling memakan biaya

  • work center mana yang menjadi sumber biaya terbesar

  • kapan harga jual perlu disesuaikan dengan perubahan biaya produksi


Tanpa visibilitas terhadap hubungan ini, keputusan bisnis sering kali tetap bergantung pada estimasi atau pengalaman sebelumnya.


Menghubungkan Produksi dan Costing Manufaktur melalui Odoo


Pendekatan yang lebih terintegrasi mulai banyak dilakukan melalui sistem ERP seperti Odoo, yang menghubungkan proses produksi, inventory, dan costing dalam satu alur yang sama.

Pada Odoo, aktivitas produksi tidak berdiri terpisah dari perhitungan biaya. Ketika sebuah Manufacturing Order dijalankan, sistem mencatat berbagai elemen yang terlibat dalam proses tersebut, mulai dari material yang digunakan hingga durasi proses produksi.


Informasi ini kemudian digunakan untuk membentuk struktur HPP produk secara otomatis.

Dengan pendekatan ini, costing tidak lagi dibangun dari estimasi manual atau spreadsheet terpisah. Struktur biaya terbentuk langsung dari aktivitas operasional yang terjadi selama proses produksi.

Hal ini membuat HPP lebih mencerminkan kondisi operasional yang sebenarnya.


Bagaimana Odoo Membentuk Costing dari Aktivitas Produksi


Dalam modul Odoo untuk Manufaktur, setiap tahapan produksi dapat dirancang sebagai Work Center. Work center dapat merepresentasikan mesin tertentu, lini produksi, atau tahapan proses tertentu dalam pembuatan produk.

Setiap work center memiliki parameter biaya yang dapat dikonfigurasi, seperti biaya penggunaan mesin per jam atau biaya tenaga kerja per jam.


Ketika sebuah Manufacturing Order dijalankan, sistem mencatat berapa lama proses berlangsung di setiap work center. Durasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi biaya produksi yang langsung dialokasikan ke produk yang dihasilkan.

Dengan mekanisme ini, biaya seperti penggunaan mesin, energi produksi, serta waktu operator tidak lagi tercatat sebagai biaya operasional umum perusahaan. Biaya-biaya tersebut menjadi bagian dari struktur HPP setiap produk.


Selain biaya operasional produksi, perubahan harga bahan baku juga dapat dikelola melalui metode costing seperti AVCO (Average Cost) dan FIFO (First In First Out).

Ketika perusahaan melakukan pembelian material dengan harga baru, sistem akan memperbarui nilai inventory secara otomatis. Produk yang diproduksi setelah perubahan tersebut akan menggunakan basis biaya yang telah diperbarui.

Pendekatan ini memastikan bahwa HPP selalu mengikuti kondisi biaya terbaru tanpa memerlukan penyesuaian manual setiap kali harga material berubah.


Menerjemahkan Proses Produksi ke dalam Sistem


Membangun struktur costing yang akurat biasanya tidak hanya soal mengaktifkan modul ERP. Setiap pabrik memiliki alur produksi, penggunaan mesin, serta struktur biaya yang berbeda.


Dalam implementasi ERP manufaktur, pendekatan yang sering dilakukan oleh tim ICS Compute dimulai dengan memahami bagaimana proses produksi berjalan di pabrik, mulai dari alur routing produksi hingga bagaimana biaya muncul di setiap tahap proses.


Dari pemetaan tersebut, konfigurasi Odoo kemudian disusun agar struktur costing dalam sistem benar-benar mencerminkan cara operasi pabrik bekerja.

Pendekatan ini membantu memastikan bahwa ERP tidak hanya berfungsi sebagai sistem pencatatan, tetapi juga menjadi dasar untuk memahami bagaimana biaya produksi sebenarnya terbentuk.


Ketika Keputusan Harga Tidak Lagi Berdasarkan Perkiraan


Pada akhirnya, pengelolaan manufaktur tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak produk yang dapat diproduksi atau dijual.

Yang sama pentingnya adalah memahami dengan jelas berapa sebenarnya biaya yang dibutuhkan untuk menghasilkan setiap unit produk.


Ketika struktur biaya sudah terhubung langsung dengan aktivitas produksi, perusahaan tidak lagi bergantung pada asumsi dalam menentukan harga. Keputusan bisnis dapat dibuat berdasarkan data yang benar-benar mencerminkan bagaimana operasi produksi berjalan.


Di titik inilah akurasi HPP tidak lagi sekadar menjadi urusan pencatatan keuangan, tetapi menjadi bagian penting dari cara perusahaan menjaga margin dan merencanakan pertumbuhan bisnisnya.

bottom of page