Berhenti Menambah Pipeline. Mulai Pahami Di Mana Data Kritis Tersimpan.
- Mohamad Ikhwan Davtian
- 14 hours ago
- 3 min read

Data silo jarang terlihat sebagai masalah besar di awal. Ia tumbuh pelan, tersebar di CRM, spreadsheet finance, dashboard marketing, database operasional, hingga berbagai tools SaaS yang diadopsi demi kecepatan kerja.
Secara terpisah, semuanya terasa masuk akal.
Namun seiring waktu, landscape data mulai terfragmentasi.
Ketika laporan melambat atau angka antar divisi tidak lagi sinkron, respons yang sering muncul justru sama: bangun pipeline baru.
Terasa progresif. Terlihat modern. Ada aktivitas engineering yang konkret.
Padahal, tanpa memahami di mana data paling kritikal sebenarnya berada, pipeline baru sering kali hanya memperbesar kompleksitas yang sudah ada.
Ilusi Kemajuan
Pipeline identik dengan modernisasi. Diagram arsitektur terlihat lebih rapi, aliran data tampak lebih terstruktur, dan organisasi merasa sedang bergerak maju.
Masalahnya, pipeline tidak menyelesaikan ambiguitas struktural.
Jika ownership belum jelas, pipeline akan mempercepat kebingungan.Jika definisi berbeda antar tim, pipeline akan menskalakan inkonsistensi.Jika sumber data tidak reliabel, pipeline hanya mengotomatisasi ketidakakuratan.
Yang terlihat seperti akselerasi sering kali hanyalah duplikasi dalam skala lebih besar.
Inilah alasan mengapa data leader berpengalaman jarang terburu-buru menambah integrasi baru. Prioritas pertama bukan kecepatan, melainkan clarity.
Kebanyakan Organisasi Bukan Punya Masalah Pipeline, Tapi Masalah Visibilitas
Coba ajukan satu pertanyaan sederhana di banyak perusahaan:
“Angka revenue utama sebenarnya berasal dari mana?”
Sering kali jawabannya tidak tunggal. Finance mengacu pada ERP.Sales percaya pada CRM.Operations memiliki logika rekonsiliasi sendiri.Sementara dashboard eksekutif menarik data dari warehouse yang tidak semua stakeholder pahami sepenuhnya.
Tidak ada yang sepenuhnya salah. Namun tanpa pemetaan data kritikal, organisasi tanpa sadar menciptakan beberapa versi kebenaran.
Dan multiple versions of truth selalu mahal.Bukan hanya dari sisi biaya operasional, seperti rework, validasi manual, atau reporting delay , tetapi juga dari sisi strategis. Kepercayaan terhadap data menurun ketika angka harus dinegosiasikan sebelum bisa digunakan untuk mengambil keputusan.
Mapping Bukan Sekadar Dokumentasi , Ini Leverage Arsitektural
Aktivitas memetakan data sering dianggap pekerjaan administratif. Padahal dampaknya sangat strategis.
Ketika dataset paling kritikal sudah teridentifikasi dengan jelas, tiga hal biasanya langsung terjadi:
Ownership menjadi eksplisit
Setiap data penting memiliki penanggung jawab. Begitu akuntabilitas jelas, kualitas data hampir selalu ikut membaik.
Redundansi cepat terlihat
Banyak organisasi baru menyadari bahwa data yang sama disimpan di beberapa tempat dengan sedikit perbedaan. Menghilangkan overlap seperti ini bukan hanya menekan biaya storage, tetapi juga mengurangi friction dalam analisis.
Integrasi menjadi lebih intentional
Alih-alih menghubungkan semua sistem, keputusan arsitektur mulai dipandu oleh prioritas bisnis.
Hasil akhirnya bukan sekadar data yang lebih rapi, tetapi proses pengambilan keputusan yang jauh lebih tenang.
Pipeline Seharusnya Mengikuti Kepentingan, Bukan Kenyamanan
Salah satu jebakan arsitektur yang paling umum adalah mengintegrasikan data berdasarkan kemudahan akses, bukan tingkat kepentingannya.
Sistem yang paling mudah dihubungkan sering diprioritaskan. Sumber data yang lebih kompleks , namun jauh lebih strategis , justru ditunda.
Pelan-pelan, dashboard mulai optimal untuk data yang tersedia, bukan data yang benar-benar penting.
Mapping mencegah drift ini.
Ketika dataset diranking berdasarkan dampak operasional dan strategis, seperti visibilitas revenue, kontrol biaya, compliance, atau customer intelligence, investasi pipeline otomatis lebih selaras dengan outcome bisnis.
Engineering effort akhirnya mengikuti business gravity.
Mulai dari Mana?
Mapping tidak harus dimulai dengan program transformasi besar.
Justru pendekatan paling efektif biasanya sederhana:
Identifikasi dataset yang digunakan leadership untuk menjalankan bisnis
Telusuri asal angka tersebut
Dokumentasikan transformasi yang terjadi
Tetapkan ownership
Temukan duplikasi
Tandai proses manual
Biasanya, pola masalah muncul lebih cepat dari dugaan.
Tidak jarang organisasi menemukan bahwa yang terlihat seperti tooling problem sebenarnya adalah governance problem.
Dan governance, berbeda dengan tools, nilainya terus terakumulasi.
Strategi Data Modern Selalu Dimulai dari Awareness
Tekanan untuk modernisasi memang nyata , mulai dari adopsi lakehouse, real-time analytics, hingga inisiatif AI.
Namun modernisasi di atas landscape data yang belum dipahami ibarat membangun di atas tanah yang belum stabil.
Strukturnya mungkin berdiri. Tapi jarang bisa diskalakan dengan elegan.
Organisasi yang bergerak lebih percaya diri biasanya memiliki satu kesamaan: mereka memahami medan datanya sebelum memperluasnya.
Setelah visibilitas tercapai, barulah pipeline benar-benar berfungsi sebagai force multiplier , bukan complexity engine.
Jadi sebelum mengalokasikan budget untuk integrasi berikutnya, ada satu pertanyaan sederhana yang layak diajukan:
Apakah landscape data saat ini benar-benar dipahami, atau hanya ditoleransi?
Karena cara tercepat meningkatkan reliability data tidak selalu dengan membangun jalur baru.
Terkadang, langkah paling strategis adalah menerangi jalur yang sebenarnya sudah ada.



